KENDARI — Universitas Mandala Waluya, khususnya Unit Pembangunan Kampus yang berlokasi di Kendari, kembali membuktikan komitmennya dalam menghasilkan lulusan berkualitas tinggi. Pencapaian gemilang datang dari sekelompok mahasiswa yang berhasil meraih medali emas dalam ajang bergengsi Asia Southeast Technology Innovation Competition (ASETIC) 2026, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada bulan Maret lalu.
Prestasi tersebut menambah deret panjang capaian akademik mahasiswa dari institusi pendidikan swasta terkemuka di Sulawesi Tenggara ini. Dalam enam bulan terakhir saja, sedikitnya tiga tim mahasiswa Universitas Mandala Waluya telah meraih penghargaan tingkat nasional dan internasional, menunjukkan bahwa investasi kampus dalam pengembangan sumber daya manusia telah membuahkan hasil yang signifikan.
Tim pemenang, yang terdiri dari empat mahasiswa Program Studi Teknik Informatika dan satu mahasiswa dari Program Studi Teknik Elektro, berhasil mengalahkan 47 tim peserta dari 12 negara dengan inovasi mereka bertajuk “SmartAquaNet: Intelligent Aquaculture Monitoring System”. Proyek yang dikembangkan selama enam bulan ini menawarkan solusi revolusioner untuk pemantauan dan manajemen budidaya ikan menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) dan artificial intelligence.
Kepala Unit Pembangunan Kampus Universitas Mandala Waluya, Dr. Ir. Bambang Sutrisno, M.Sc., menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian luar biasa ini. “Kami sangat bangga dengan dedikasi dan kerja keras mahasiswa-mahasiswi kami. Prestasi ini bukan hanya milik mereka secara individu, tetapi juga hasil dari ekosistem akademik yang kami bangun di Unit Pembangunan Kampus Kendari ini. Fasilitas laboratorium yang lengkap, bimbingan dari dosen-dosen berkualifikasi internasional, dan dukungan penuh dari institusi telah menciptakan kondisi yang kondusif bagi mahasiswa untuk berinovasi,” ujar Dr. Bambang dalam wawancara khusus pada Kamis, 10 April 2026, di ruang kerjanya.
Perjalanan Menuju Podium Tertinggi
Perjalanan menuju kemenangan di ASETIC 2026 tidaklah mudah. Tim mahasiswa ini dimulai dari ide sederhana yang lahir selama perkuliahan Seminar Proposal Skripsi pada semester genap tahun akademik 2024/2025. Ketua tim, Riska Amelia Putri, mahasiswa semester delapan Program Studi Teknik Informatika, menceritakan momen awal terbentuknya tim mereka.
“Saat itu, saya sedang mengambil kelas tentang IoT dan machine learning. Dosen kami, Dr. Hendra Wijaya, M.Kom., mengatakan bahwa teknologi IoT memiliki potensi besar untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis di bidang pertanian dan perikanan. Sulawesi Tenggara, khususnya Kendari, memiliki potensi besar dalam budidaya perikanan air laut dan air tawar. Kami pikir, mengapa tidak mengembangkan solusi teknologi yang bisa langsung membantu petani dan peternak ikan lokal?” jelas Riska, yang merupakan mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik di angkatannya.
Ide tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan empat rekan mahasiswa lainnya. Tim yang akhirnya bernama “Mandala Innovation Lab” ini terdiri dari Riska Amelia Putri (ketua), Muhammad Rizki Pratama (anggota, Teknik Informatika), Siti Nur Azizah (anggota, Teknik Informatika), Andi Pratama Kusuma (anggota, Teknik Informatika), dan Eka Prasetyo Wibowo (anggota, Teknik Elektro). Mereka bekerja sama dengan intensif di Laboratorium Teknologi Informasi dan Lab Embedded System Unit Pembangunan Kampus Kendari.
Dalam waktu enam bulan pertama, tim ini melakukan riset mendalam tentang kebutuhan industri perikanan lokal. Mereka berkonsultasi dengan lebih dari 20 kelompok tani ikan dan pemilik tambak di sekitar Kendari untuk memahami tantangan operasional yang mereka hadapi setiap hari.
“Kami belajar bahwa salah satu masalah terbesar yang dihadapi para peternak ikan adalah monitoring kualitas air yang tidak efisien. Mereka harus melakukan pengecekan manual berkali-kali setiap hari, menghabiskan waktu dan tenaga. Pada saat yang sama, data yang mereka kumpulkan tidak tersistematisasi dengan baik, sehingga sulit untuk dianalisis,” tambah Andi Pratama Kusuma, yang bertanggung jawab pada aspek hardware sistem.
Berdasarkan insight ini, tim mengembangkan SmartAquaNet, sebuah sistem terintegrasi yang menggabungkan sensor IoT untuk mengukur suhu air, pH, tingkat oksigen terlarut (dissolved oxygen), dan salinitas secara real-time. Data yang dikumpulkan kemudian dikirim melalui jaringan LoRaWAN ke cloud server, di mana algoritma machine learning menganalisis pola dan memberikan rekomendasi manajemen otomatis kepada pengguna melalui aplikasi mobile yang user-friendly.
Tantangan dan Inovasi
Perjalanan menuju kompetisi internasional tentu penuh dengan tantangan. Muhammad Rizki Pratama, yang menangani aspek software development, mengingat dengan jelas masa-masa kritis pengembangan sistem.
“Kami sempat menghadapi masalah dalam hal akurasi prediksi algoritma machine learning kami. Data training yang kami gunakan awalnya terbatas hanya dari 10 lokasi tambak. Namun, Dr. Hendra membantu kami untuk mengumpulkan data dari lebih banyak lokasi dan menggunakan teknik data augmentation yang lebih canggih. Hasilnya, akurasi prediksi kami meningkat dari 78 persen menjadi 94 persen,” ungkap Rizki.
Dukungan dari dosen-dosen pembimbing juga menjadi kunci kesuksesan tim ini. Selain Dr. Hendra Wijaya, tim juga mendapat bimbingan dari Dr. Irene Sutantyo, M.Sc. (Program Studi Teknik Elektro), dan Dr. Budi Santoso, M.B.A. (Program Studi Manajemen) untuk aspek-aspek bisnis model dan strategi pemasaran produk mereka.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. Ir. Sugeng Riyanto, M.T., Ph.D., mengapresiasi upaya kolaboratif antara mahasiswa dan dosen. “Apa yang kami lihat di sini adalah contoh sempurna dari pembelajaran berbasis proyek dan riset yang terintegrasi. Mahasiswa bukan hanya belajar teori, tetapi juga diajak langsung terlibat dalam memecahkan masalah nyata di masyarakat. Model pembelajaran ini yang kami yakin menjadi pembeda utama antara Universitas Mandala Waluya dengan institusi lainnya,” katanya saat diwawancara pada 8 April 2026.
Kompetisi dan Kemenangan
Persiapan untuk mengikuti ASETIC 2026 dimulai pada November 2025. Tim ini harus melewati berbagai tahap seleksi, mulai dari tingkat nasional hingga akhirnya lolos ke final internasional di Bangkok. Selama kurang lebih enam minggu sebelum kompetisi, tim melakukan intensive training, menyempurnakan presentasi, dan mempersiapkan demo produk mereka.
“Kami sangat nervous saat tiba di Bangkok. Pesaing-pesaing kami adalah tim dari berbagai universitas terkemuka di Asia Tenggara seperti Chulalongkorn University, National University of Singapore, dan Hanoi University of Science and Technology. Mereka semua memiliki sumber daya dan pengalaman yang jauh lebih lama,” kenang Siti Nur Azizah, yang menjadi presenter utama dalam kompetisi tersebut.
Namun, kekhawatiran tersebut sirna ketika juri internasional memberikan penilaian tertinggi untuk inovasi, implementasi praktis, dan potensi dampak sosial ekonomi dari SmartAquaNet. Pada 25 Maret 2026, tim Universitas Mandala Waluya dinobatkan sebagai juara pertama ASETIC 2026, mengalahkan tim-tim bersaing lainnya yang juga membawa inovasi teknologi berkualitas tinggi.
“Saat nama universitas kami dipanggil sebagai pemenang, saya tidak bisa menahan air mata. Semua kerja keras, tidur malam, dan dedikasi selama enam bulan akhirnya terbayar. Ini bukan hanya kemenangan kami sebagai tim, tetapi juga kemenangan bagi Universitas Mandala Waluya dan khususnya Unit Pembangunan Kampus Kendari,” ujar Riska yang masih teringat jelas momen tersebut.
Penghargaan Lainnya dan Komitmen Berkelanjutan
Prestasi SmartAquaNet baru saja menjadi capaian puncak dari serangkaian prestasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan Januari 2026, tim mahasiswa lain dari Program Studi Teknik Sipil berhasil meraih juara I dalam National Engineering Competition yang diselenggarakan oleh Ikatan Insinyur Indonesia di Jakarta.
Sebelumnya, pada Oktober 2025, tiga mahasiswa Program Studi Akuntansi berhasil meraih juara II dalam National Case Competition yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidikan Akuntansi Indonesia. Pencapaian-pencapaian ini membuktikan bahwa keunggulan kompetitif Universitas Mandala Waluya tidak hanya terbatas pada satu program studi atau satu bidang ilmu, tetapi tersebar di berbagai disiplin ilmu.
Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Akhmad Supriyanto, M.Sc., dalam keterangan resmi yang disampaikan pada 11 April 2026, menyatakan komitmen institusi untuk terus meningkatkan ekosistem inovasi dan riset. “Prestasi mahasiswa-mahasiswi kami ini adalah bukti nyata dari visi Universitas Mandala Waluya untuk menjadi institusi pendidikan yang tidak hanya berkontribusi dalam menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga menjadi engine of innovation bagi pembangunan daerah dan bangsa. Kami akan terus meningkatkan investasi dalam fasilitas penelitian, mendatangkan dosen-dosen dengan kualifikasi internasional, dan menciptakan ekosistem yang mendukung budaya entrepreneurship dan inovasi di kalangan mahasiswa,” kata Prof. Akhmad.
Sementara itu, Kepala Unit Pembangunan Kampus Kendari menyampaikan rencana konkret untuk memaksimalkan pencapaian ini. “Kami sedang menyusun proposal untuk mendirikan Research and Innovation Center di Unit Pembangunan Kampus Kendari. Pusat ini akan difokuskan pada riset-riset yang relevan dengan pembangunan daerah, terutama di bidang teknologi maritim, pertanian modern, dan smart agriculture. SmartAquaNet adalah salah satu contoh riset yang kami ingin kembangkan lebih lanjut, bahkan menjadi startup teknologi yang bisa memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat lokal,” jelas Dr. Bambang Sutrisno.
Dampak dan Rencana Ke Depan
Kemenangan ini juga membuka peluang baru bagi pengembangan SmartAquaNet. Beberapa perusahaan teknologi dan investor dari Asia Tenggara telah menunjukkan ketertarikan untuk berkolaborasi mengkomersialisasi produk ini. Tim Mandala Innovation Lab sedang dalam proses mendiskusikan kemungkinan untuk mendirikan startup technology yang akan dilokalisasikan di Kendari.
“Kami berniat untuk tidak hanya mengembangkan produk yang menang di kompetisi, tetapi juga menciptakan dampak nyata bagi para petani ikan di Sulawesi Tenggara. Jika berhasil, SmartAquaNet bisa meningkatkan produktivitas tambak ikan lokal hingga 30 persen dan mengurangi biaya operasional secara signifikan,” terang Riska dengan antusiasme.
Universitas Mandala Waluya juga telah menetapkan target ambisius untuk tahun akademik 2026/2027. Menurut Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, Dr. Ir. Suwandi, M.Sc., universitas menargetkan minimal lima tim mahasiswa untuk lolos ke kompetisi internasional, dengan anggaran penelitian yang ditingkatkan hingga 200 persen.
“Kami ingin menciptakan kultur di mana setiap mahasiswa merasa bahwa mereka memiliki potensi untuk berinovasi dan berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan masyarakat. Untuk itu, kami akan membuka lebih banyak program mentoring, menyediakan akses ke database jurnal internasional, dan memberikan insentif finansial yang lebih menarik bagi mahasiswa yang berhasil menghasilkan inovasi,” ungkap Dr. Suwandi.
Penutup
Pencapaian mahasiswa Universitas Mandala Waluya di ASETIC 2026 tidak hanya merupakan kebanggaan bagi institusi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk terus berinovasi dan bereksplorasi di bidang ilmu masing-masing. Dalam era digital dan ekonomi berbasis pengetahuan saat ini, inovasi dan riset menjadi kunci untuk tetap kompetitif dan relevan.
Universitas Mandala Waluya, melalui Unit Pembangunan Kampus yang strategis berlokasi di Kendari, telah membuktikan bahwa dengan visi yang jelas, dukungan infrastruktur yang memadai, dan komitmen terhadap keunggulan akademik, institusi pendidikan di daerah dapat menghasilkan inovasi setara atau bahkan melampaui institusi di pusat-pusat metropolitan.
Lantas, apakah pencapaian kali ini akan menjadi momentum awal yang membawa Universitas Mandala Waluya menuju level yang lebih tinggi dalam peta pendidikan tinggi nasional dan internasional? Jawabannya akan ditentukan oleh seberapa serius komitmen institusi dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya inovasi ini ke depannya. Satu hal yang pasti, dengan mahasiswa-mahasiswa berbakat